
Pendiri Yayasan Sakuranesia Tovic Rustam (kiri) menyerahkan batik karya putra Presiden pertama RI Soekarno, Guruh Soekarnoputra kepada Pemilik Universitas Bunkyo Gakuin Masakazu Shimada di Kampus Universitas Bunkyo Gakuin Tokyo, Jumat (20/12/2024). (ANTARA/HO-Sakuranesia)
Pendiri Yayasan Sakuranesia Tovic Rustam bersama Sakura Ijuin melakukan kunjungan kehormatan ke Universitas Bunkyo Gakuin di Tokyo yang sedang merayakan 100 tahun perjalanan sejarahnya.
Tovic Rustam dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, mengatakan Yayasan Sakuranesia merupakan organisasi yang berfokus pada pengembangan pendidikan antara Jepang dan Indonesia.
“Saya berharap ini bisa menjadi momentum untuk memperdalam pertukaran budaya dengan Indonesia,” katanya.
Kunjungan ini terwujud atas fasilitasi Direktur Azalee Group, Kurusu dan General Manager Yamaguchi. Kunjungan kehormatan ini merupakan bagian dari kerja sama komprehensif antara Grup Azalee dan Universitas Bunkyo Gakuin.
Dalam pertemuan itu kedua pihak mendiskusikan kemungkinan pendirian Fakultas Bahasa Jepang di Indonesia sebagai langkah konkret dalam kerja sama pendidikan.
Didirikan pada tahun 1924 sebagai Shimada Saihou Denshusho atau Lembaga Pelatihan Menjahit Shimada, Universitas Bunkyo Gakuin kini telah berkembang menjadi institusi pendidikan terpadu, mulai dari taman kanak-kanak hingga program pascasarjana
Pada tahun 2026 universitas ini akan membuka Fakultas Human Data Science yang bertujuan mendidik sumber daya manusia yang mampu mewujudkan masyarakat yang hidup berdampingan dengan memanfaatkan data dalam bidang lingkungan, masyarakat lokal, kesehatan, dan kesejahteraan yang berkaitan langsung dengan kebahagiaan manusia.
Rektor dan Ketua Yayasan Bunkyo Gakuin, Masakazu Shimada, menyatakan komitmen memberikan pendidikan yang relevan dengan tantangan zaman.
Dalam kunjungan tersebut Tovic Rustam memberikan kain batik eksklusif karya Guruh Soekarnoputra sebagai tanda persahabatan dan penghormatan terhadap warisan budaya Indonesia. “Batik ini adalah karya tunggal yang hanya ada satu di dunia,” katanya.
Tovic Rustam berharap pemberian ini dapat menjadi simbol awal yang baik untuk mempererat pertukaran budaya dan pendidikan antara Jepang dan Indonesia.
“Yayasan Sakuranesia, yang terus aktif menjembatani kerja sama pendidikan antara Jepang dan Indonesia, diharapkan dapat semakin berkembang dan berkontribusi pada kemajuan pendidikan global,” katanya.